untitled

Oleh : Budi  ”Semar”  Witjaksono.

       Alhamdulillahi rabbil ’alamin. Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa Asyhadu anna muhammadarrasulullah. Allahumma shalli wa sallim wa baarik alaa Muhammad wa alaa aalihii wa ashhabihii ’ajma’in.
       Baru-baru ini kita dikejutkan dengan munculnya paham-paham atau orang-orang yang dengan terang-terangan mengaku sebagai Nabi atau Rasul Allah. Berkaitan dengan hal tersebut tadi, maka beramai-ramailah juga masyarakat mengumandangkan kata-kata ”Sesat”. Entah mana yang benar, apakah yang dituding sesat itulah yang sesat ataukah justru mereka yang menuding sesat itulah yang sesat.
      Untuk tidak saling menuduh sesat dan tidak saling merasa diri benar dengan berbagai argumen yang didasari ayat-ayat suci, maka saya merasa terpanggil untuk memaparkan sebuah tulisan yang merupakan karya pemikiran dan sebuah kajian pemahaman dari saudara H. Miftahuzzaman.
     Seolah mendapat petunjuk akan apa yang kini tengah terjadi di kalangan ummat Rasulullah saw, secara tidak sengaja buku ini saya dapatkan ketika berjalan di emperan-emperan jalan.  
     Jadi bagaikan ingin menjadi seorang ”Semar” seperti dalam pewayangan Jawa,  maka saya ingin berbagi pengetahuan kepada saudara-saudara saya sesama muslim tentunya dengan cara mengangkat isi buku ini melalui jalur internet.  Tokoh Semar diibaratkan seorang tua (Nabi Khidir as) yang selalu muncul dengan sifat-sifat bijaksananya yang penuh misteri.
     Kata ”Semar” pun terinspirasi dari tulisan saudara Husain Manggabarani  di internet tentang misteri angka 7. http://misteri07.bravehost.com
       Namun ada kalimat yang perlu saya koreksi sedikit, yaitu mengenai ”Kyai Ketibal” istilah Kyaii Ketibal dalam bahasa jawa dulu (Kuno) adalah ”Seorang yang suka atau senang memakai sendal” yang mengartikan bahwa Kyai Ketibal adalah seorang yang suka berbaur dengan masyarakat. Mungkin saudara Husen Manggabarani (Sumatera Utara; Batak) keliru dalam menuliskan arti Kyai Ketibal, karena bukan bahasa Jawa Biasa (Umum)

  KITA MEMERLUKAN SEORANG NABI/RASUL
(Sebuah kajian yang mengungkapkan masih terbukanya pintu kenabian dan datangnya seorang utusan Allah SWT. di zaman ini, Oleh H. Miftahuzzaman, tahun 2000, penerbit CV. Aneka Solo)

Berbagai tindak kejahatan dan bentuk-bentuk keburukan yang aneh-aneh dan sangat biadab di zaman sekarang ini sudah dianggap biasa saja. Dianggap biasa karena selama ini kita asyik dibuai oleh nyanyian para artis yang cantik-cantik, kembali bisa tertawa karena dihibur oleh lawakan-lawakan para badut, kembali bisa melupakan kepedihan yang terjadi karena habis menonton film dengan bintangnya yang manis-manis dan cakep-cakep. Sehingga ummat manusia zaman ini akan menjadi bahan ejekan dan dicap sebagai ummat bodoh, ummat jahiliyah oleh ummat manusia yang hidup kelak di masa mendatang, sama seperti kita membicarakan ummat manusia sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw.
Kita tengok sejarah ummat-ummat masa lalu. Kaum ‘Aad, kaum Tsamud, kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Luth, Bani Israel, dan seterusnya hingga kaumnya Nabi Muhammad saw. kaum Quraisy, kesemuanya itu kita anggap sebagai ummat-ummat yang bodoh, sesat, jahat oleh karena perbuatan-perbuatan jahat mereka. Karena perbuatan mereka itulah sehingga mereka dilaknat oleh Allah SWT setelah pengingkaran mereka terhadap para UtusanNya. Apakah perbuatan jahat yang telah mereka lakukan? Penyimpangan seksual dan suka merampok pada masa Nabi Luth as., suka mengurangi timbangan/takaran pada masa Nabi Syu’aib as., membunuh onta Nabi Shaleh as., membunuh para Nabi oleh Bani Israel, menyembah patung dan suka mengubur hidup-hidup bayi perempuan pada masa Nabi Muhammad saw. Apakah hanya karena perbuatan-perbuatan seperti di atas yang membuat mereka dilaknat dan dipermalukan sepanjang masa? Apakah hanya karena perbuatan mereka yang kualitas dan kuantitasnya “seribu kali lebih kecil” dibanding perbuatan-perbuatan ummat manusia zaman sekarang, mereka sudah dipandang sial dan tersesat? Bagaimana pula dengan ummat manusia zaman sekarang, sebutan apa yang lebih pantas dan tepat untuk perbuatan-perbuatan jahat mereka? Kenapa hanya karena perbuatan-perbuatan jahat ummat manusia zaman dulu Allah SWT langsung mengutus para Nabi dan RasulNya? Kenapa sekarang di mana perbuatan-perbuatan jahat ummat manusia jauh lebih bejat dan lebih tersesat tetapi Allah SWT tidak mengutus seorang Nabi atau Rasul?  
Berbagai musibah dan bencana yang terjadi sekarang ini terjadi secara alami, yakni sesuai dengan hukum alam. Hukum alam adalah kata lain dari Sunnatullah, yang intinya ialah hukum sebab akibat. Artinya segala sesuatu terjadi karena suatu sebab. Gunung meletus ada sebabnya, bencana banjir ada sebabnya, pesawat jatuh ada sebabnya dan lain sebagainya. Banjir terjadi karena hujan yang dibawa oleh awan tebal, karena terjadi penguapan karena sinar matahari, begitu terus sampai kepada malaikat dan sampai kepada Allah SWT.
Demikianlah gambaran mekanisme kerja pemerintahan Allah SWT. Malaikat hanya penyebab kedua sesudah Allah SWT. Sesudah malaikat bisa jadi masih ada beberapa sebab, puluhan, ratusan atau bahkan jutaan sebab lagi sampai kepada suatu kejadian yang terjadi. Semakin banyak seseorang mengenal sebab-sebab sesuatu, maka semakin arif dan tepat perhitungan dia mengenai sesuatu tersebut.
Orang beriman mengakui bahwa Allah SWT. adalah Musabbibul-asbab, penyebab dari segala sebab. Di zaman ummat-ummat terdahulu ada berbagai nikmat yang diturunkan kepada mereka, dan ada juga berbagai bencana menimpa mereka. Allah SWT. menurunkan semua itu dengan maksud supaya ummat dari seorang nabi dapat sadar. Tetapi sekarang berbagai macam kenikmatan diturunkan melimpah kepada ummat manusia, begitu juga bencana dan malapetaka terjadi terus-menerus di berbagai belahan bumi dan menimpa siapa saja, tetapi anehnya hampir tidak terdengar ada pengamat yang menjelaskan secara tegas di acara tablik akbar, siaran televisi atau melalui media massa lainnya, sedang bermaksud apakah Allah SWT. dengan semua kejadian itu? Yang terdengar kebanyakan adalah berita suatu kejadian disertai komentar mereka bahwa musibah itu terjadi karena faktor-faktor alam yang bisa saja dan biasa terjadi di sekitar kita. Apakah kita telah melupakan bahwa
Bagaimanakah sesuatu itu bisa terjadi dengan sendirinya, atau terjadi kehendak-Nya, tetapi tanpa maksud dan tujuan?
Yang jelas bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya, dengan hikmah yang sangat agung dan tujuan yang mulia. Dari dulu sampai sekarang, hingga yang akan datang akan tetap demikian adanya, karena kesemuanya terjadi berkaitan erat dengan Sifat-SifatNya yang tidak akan pernah berubah. Jika dahulu Dia Maha Mengetahui keadaan ummat manusia yang tidak bisa hidup tanpa air dan udara, lalu Dia akan selalu menyediakan kedua hal tersebut kepada ummat manusia, maka sekarang dan besok seterusnya pun akan demikian. Kalau Dahulu Dia Maha Melihat ummat manusia yang telah jatuh ke dalam jurang kehancuran, maka sekarang pun akan tetap demikian. Dia bermaksud mengingatkan ummat manusia untuk kembali ke jalan yang lurus, hidup damai, rukun dan sejahtera, seperti dulu-dulunya. Dia bermaksud memberi pelajaran dan juga hukuman kepada siapa saja, sebagaimana dulu-dulunya Dia selalu berkehendak seperti itu untuk ummat manusia. Caranya? Caranya pun seperti dulu-dulunya, tidak berubah sebagaimana Sifat-SifatNya yang tidak akan berubah, yaitu dengan jalan mengutus seorang Pilihan-Nya.
Singkatnya Sunnatullah itu akan tetap berjalan, tidak akan pernah berubah. Jika sekarang ada sebab-sebab yang sama, maka pasti terjadi akibat yang sama pula, sesuai firman Allah SWT :
 “Maka engkau tidak akan mendapatkan bagi sunnatullah suatu pergantian, dan engkau tidak akan mendapatkan bagi sunnatullah suatu perubahan.”  (QS. Faathir: 43)
Dahulu kala suatu ummat akan segera diberikan Juru Selamat seorang Nabi yang hanya karena mereka, misalnya, suka mengurangi timbangan dan takaran, atau suka merampok dan melakukan penyimpangan seks (homoseksual). Namun sekarang ini segala macam dosa dan perbuatan jahat, pembunuhan dari yang biasa hingga memotong-motong mayat, peperangan, pertikaian, permusuhan, perkosaan, penjarahan, pembakaran, kerusuhan, perdagangan narkoba dan wanita, pemalsuan dari mulai uang hingga minyak goreng, seks bebas dimana-mana, film-film cabul, aborsi, homo-lesbian yang semakin banyak, perdagangan sperma laki-laki unggul, korupsi, memakan uang rakyat, penipuan dan mereka masih banyak lagi yang sudah tidak bisa kita ingat dan sebutkan satu persatu.
Kalau dahulu kala setiap ummat manusia sudah berbuat kesalahan kecil saja, maka Allah SWT akan mengutus Nabi dan atau RasulNya untuk memperbaiki kepada kebenaran, tetapi kenapa sekarang ummat manusia sudah sangat-sangat jauh dari kebenaran tetapi Allah SWT tidak lagi mengutus Juru Selamat seorang Nabi dan atau Rasul? Apakah Allah SWT tidak lagi bersifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap ummat manusia zaman sekarang ini? Apakah Allah SWT sudah tidak lagi bersifat Maha Adil dan sudah membeda-bedakan antara ummat manusia?
Ummat manusia dewasa ini sudah terserang berbagai macam penyakit, bukan hanya penyakit fisik yang hanya bisa diobati para dokter, tetapi juga sudah terkena penyakit hati/rohani yang hanya bisa diobati oleh para Nabi/Rasul, seperti kata Imam Al Ghazali bahwa: Para Nabi adalah dokter-dokter hati. Berbagai macam penyakit hati yang menyerang ummat manusia sekarang ini, tidak cukup kuat bila hanya diobati oleh para Ustadz, Ulama Al Azhar yang hebat sekalipun, atau seorang Mujaddid biasa sekalipun. Para Nabi juga adalah Mujaddid, tetapi mereka adalah Mujaddid luar biasa. Mereka adalah Mujaddid Khusus yang diutus oleh Allah SWT.
Dalam kitab Hujalul Kiramah, disebutkan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah Mujaddid abad pertama Hijriah, yang memang dalam sejarah dikatakan bahwa kerusakan pertama-tama yang terjadi di masa awal Islam adalah pada sistem khilafah, dimana dahulunya sistem khilafah berjalan menurut Pola Kenabian (‘Ala minhajinnubuwwah). Tetapi kemudian setelah itu berubah dengan Pola Kerajaan Feodalis. Imam Syafi’i sebagai Mujaddid abad kedua, memang pas karena pada zamannya mulai terjadi kerancuan / kesimpangsiuran mengenai masalah-masalah syari’ah/fiqih di kalangan ummat Islam, dan bukan kebetulan beliau adalah adalah spesialis/ahli di bidang itu.
Demikian pula Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Imam Al Ghazali dan seterusnya hingga abad 13 H, mereka masing-masing adalah Mujaddid pada bidangnya sendiri-sendiri. Jadi bisa dikatakan mereka adalah Mujaddid Lokal karena kerusakan yang terjadi pada masa itu boleh dikatakan masih bertaraf lokal. Sedangkan semenjak abad 14 kerusakan dalam ummat Islam sampai sekarang ini sudah sampai pada taraf yang sangat berat dan terdapat pada semua bidang, aqidah, tasawwuf, fiqih, akhlak, khilafah dan seterusnya, semuanya telah rusak. Bukan Al Qur’an dan Hadits Nabi serta Sunnahnya yang rusak, tetapi pengamalannya yang rusak. Sehingga sepanjang sejarah ummat manusia, tidak pernah ada yang telah terperosok ke dalam kerusakan moral dan akhlak yang sangat jauh dan hebat kerusakannya kecuali yang terjadi pada masa sekarang ini. Dan kebangkitan ummat manusia sekarang ini hanya bisa terjadi dengan “berkah” datangnya seorang Nabi kepada kita.
Berdasarkan banyak hadits nabi bahwa tidak ada lagi nabi sesudah Nabi Muhammad saw. Bahkan dalam Al Qur’an pun dalam surah Al Ahzab 40 sudah jelas dikatakan bahwa: Muhammad bukanlah ayah seorang laki-laki di antara kamu, akan tetapi Utusan Allah dan penutup para nabi. Demikianlah para Ulama mengartikannya. Pokoknya sampai kiamat datang, tidak akan ada lagi nabi. Sebab Nabi Muhammad saw. itu adalah Nabi terakhir. Cukuplah di tengah-tengah kita akan Al Qur’an dan Sunnah, selama kita berpegang pada keduanya, kita tidak akan tersesat, sesuai janji Rasulullah saw. Begitulah yang sering dikatakan para ulama.
Al Qur’an dan Sunnah memang menjamin barang siapa berpegang teguh kepada keduanya mereka akan selamat, akan tetapi keduanya tidak dapat menjamin bahwa ummat Islam akan tetap dan selalu berpegang teguh kepada keduanya. Bahkan Rasulullah saw. berkata bahwa pada suatu masa Al Qur’an akan tinggal menjadi sebuah bacaan yang kosong, tidak ada lagi yang tinggal kecuali tulisan hurufnya belaka. Bahkan dalam Al Qur’an sendiri pada Surah Al Furqan 30 juga dikatakan ummat Islam akan menelantarkan Al Qur’an.
Nah, ketika pada kenyataannya mereka tidak lagi berpegang teguh pada keduanya, tentu jaminan keselamatan tadi tidak akan mereka dapatkan. Sebaliknya, mereka akan dapatkan kesesatan, kekacauan dan malapetaka. Al Qur’an dan Sunnah itu ibarat sama halnya dengan peraturan-peraturan dan rambu-rambu lalu lintas yang dibuat demi keselamatan para pengendara kendaraan bermotor. Hal itu tidak menjamin bahwa semua pengendara bakal mentaatinya. Hanya dikatakan taatilah demi keselamatan anda. Nah ketika terjadi pelanggaran, lalu terjadi kecelakaan lalu lintas, maka petugas lalu lintas akan segera mengirimkan petugasnya untuk memberikan pertolongan, meskipun kecelakaan itu terjadi karena kecerobohan para pengendara itu sendiri.
Begitu pula Allah SWT Yang Maha Melihat, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang jauh lebih besar daripada kepala petugas lalu lintas dan Menteri Perhubungan sekali pun, pasti Maha Menyaksikan berbagai macam kecelakaan sangat mengerikan yang menimpa ummat manusia zaman ini dan tidak mungkin membiarkannya tanpa mengirim seorang Juru Penolong pun.
Singkatnya secara logika bahwa Sunnatullah yang berlaku selama ini, tanda-tanda zaman dan perasaan di hati kita sendiri yang paling dalam, semuanya sudah sangat mendukung untuk perlunya kedatangan seorang Nabi/Rasul untuk zaman ini. Kalaulah tidak bisa karena tidak ada lagi Nabi setelah Rasulullah saw. berarti kedatangan Rasulullah saw. sebagai Rahmatan lil’aalamin adalah tidak benar, karena telah menghambat turunnya Rahmat Allah SWT untuk menurunkan Kasih-SayangNya dalam bentuk mengirim seorang Juru Penyelamat kepada ummat sepeniggal beliau, khususnya yang sudah sangat jauh dari kurun beliau. Dan ini berarti bahwa janji Allah SWT dalam Al Qur’an yang mengatakan bahwa ummat Rasulullah saw. adalah ummat yang terbaik dari semua ummat Nabi-Nabi sebelumnya, pun juga tidak benar. Ibarat sebuah universitas, universitas-universitas lain dapat mengeluarkan titel profesor-doktor, tetapi universitas Rasulullah saw., tidak dapat melakukannya.


Khatamannabiyyin

Khatamannabiyyin berasal dari dua kata, yaitu: Khatam  yang artinya Cincin, Stempel atau Yang terakhir, dan Nabiyyin (bentuk jamak dari Nabi : Pembawa Berita) artinya para Nabi. Kalaulah kita merujuk pada kata Khatamannabiyyin yang terdapat dalam Surah Al Ahzab ayat 40, sudah tentu hal itu akan berarti lain. Hal yang dikehendaki dalam surah tersebut bukan lagi dalam pengertian hakiki (sebenarnya) yang berarti: cincin para nabi, stempel para nabi atau yang terakhir dari para nabi. Akan tetapi yang dimaksudkan adalah dalam pengertian kiasan (majazi). Jadi pengertiannya akan menjadi “Yang termulia/terbaik dari para Nabi”. Mengapa harus menggunakan pengertian/makna kiasan (majazi) dan bukannya makna hakiki? Karena sesuai dengan asbabunnuzul (sebab turunnya), kata itu difirmankan dalam rangka menyanjung/menerangkan ketinggian derajat Rasulullah saw. di atas derajat semua manusia termasuk para nabi. Kalaulah kita mengartikan dengan makna hakiki, maka sudah tentu sangat tidak cocok. Karena tidak mengandung suatu pujian/sanjungan apa-apa, bahkan makna itu sangat tidak mungkin untuk diberikan kepada Rasulullah saw. yang nyata-nyata adalah seorang manusia, bukan emas (cincin) atau karet (stempel). Kalau kita artikan lagi dengan arti “penutup para Nabi/Nabi terakhir”, dalam pengertian terakhir kedatangannya sebagai utusan dan sesudah Beliau tidak ada lagi nabi, maka ini juga tidak mengandung pujian/sanjungan apa-apa. Karena orang yang datangnya belakangan belum tentu lebih mulia daripada orang yang datangnya lebih dulu. Seperti misalnya Nabi Yahya as., Nabi Zakaria as., Nabi Ilyas as., mereka itu datang sesudah Nabi Musa as., tetapi mereka tidak lebih tinggi derajatnya dari Nabi Musa as.. Contoh lain, seorang Presiden, ia tetap lebih tinggi derajat/pangkatnya daripada Gubernur dan para Menteri, baik ia datang ke suatu tempat lebih dulu dari mereka atau sesudah mereka. Tetapi dengan pengertian makna kiasan/majazi, sanjungan kepada Rasulullah saw. bisa tercapai. Jadi “Cincin para nabi”, berarti Rasulullah saw. merupakan kebanggaan para nabi lantaran kebaikan dan keistimewaan yang dimiliki Beliau, sebagaimana cincin yang bagus dan sangat mahal harganya yang menjadi kebanggaan pemiliknya. Atau “Stempel para Nabi”, berarti bhawa dengan perantaraan Beliau, status para Nabi dan keabsahan/legalitas risalah mereka menjadi jelas dan resmi, setelah sebelumnya kabur dan meragukan, sebagaimana kegunaan stempel untuk melegalisir surat-surat penting. Atau “Penutup para Nabi”, berarti Beliau adalah Nabi yang derajatnya paling akhir/tinggi, sebaik-baik para nabi, tidak ada lagi nabi yang derajatnya melebihi Beliau, baik nabi yang lama atau nabi yang baru. Pemberian makna “sebaik-baik para Nabi” atau “terakhir para Nabi”, dalam artian terakhir derjatnya, bukan terakhir kedatangannya, akan menjadi lebih jelas kebenarannya apabila kata khatamannabiyyin itu kita bandingkan dengan beberapa contoh serupa berikut ini:


Abu Tammam itu khatamnya para penyair (Wafayatul A’yan)

Imam Syafe’i itu khatamnya para wali (At Tuhfah Al Saniyyah)

 
Syaikh Muhammad Abduh itu khatamnya para imam (Tafsir Al Fatihah)
 

Manusia itu khatamnya makhluk-makhluk jasmani (Tafsir Kabir)
 
 
Ibnu Hajar Al Asqalani khatimahnya para penghafal (Thabqat Al-Mudallisin)
 
Syihabuddin Al-Alusi khatimahnya para sastrawan (Ruhul Ma’ani)

Contoh-contoh ini semua struktur kata-katanya sama dengan khatamannabiyyin, sama-sama terdiri dari kata khatam (      ) yang mudhlof  (dirangkai) dengan kata berbentuk jamak. Bahkan dua contoh terakhir menggunakan kata khatimah ()yang mana makna hakikinya “benar-benar yang terakhir/penutup”, karena ia merupakan shighoh isim fa’il yang ditambah ta’   ) mubalaghah, yakni ta’ yang menunjukkan makna “sangat” atau  “benar-benar”. Namun demikian tidak ada satu pun dari contoh-contoh itu yang bisa/pantas diartikan “penutup/terakhir”. Coba saja, “Abu Tamam penutup para Penyair” atau “Imam Syafe’i penutup para Wali”, apakah setelah Abu Tamam tidak ada lagi penyair seorang pun? Apakah setelah Imam Syafe’i tidak ada lagi wali seorang pun?

 
Hadits “Laa Nabiyya Ba’dii
Pertanyaannya kini adalah bagaimana pula dengan Hadits nabi Laa Nabiyya Ba’dii -  tidak ada nabi sesudahku?
Pertama, hadits Rasulullah saw. pasti tidak bertentangan dengan Al Qur’an. Kedua, kedudukan hadits bagi Al Qur’an adalah pendamping/penguat. Ibarat pelayan dengan majikannya. Ketiga, hadits sama sekali tidak boleh dijadikan hakim bagi Al Qur’an. Sebaliknya jika dipandang perlu karena kekurangjelasan misalnya, maka haditslah yang harus dihakimi dengan Al Qur’an.
Di dalam kasus khamannabiyyin – laa nabiyya ba’dii         

 
Sama sekali tidak terdapat kontrdiksi/pertentangan apapun. Bahkan sebagaimana fungsi hadits bagi Al Qur’an tadi, hadits laa nabiyya ba’dii itu benar-benar mendukung dan menguatkan makna khatamannabiyyin. Kemudian karena hadits itu bahasa bicara/lisan, maka pahamilah hadits itu sebagaimana kita memahami pembicaraan seseorang (Arab) secara wajar, dengan memperhatikan segala “siyaq dan sibaq”nya (konteks – koneksitas). Misalnya hadits:

 
“Dan akan ada di dalam ummatku tiga puluh pendusta, semuanya mengaku sebagai nabi, sedangkan Aku penutup para nabi tidak ada nabi sesudahku.”    (HR.Bukhari)

Di sini Rasulullah saw. berbicara mengenai para pendusta yang kelak bakal muncul untuk berusaha merusak bangunan dan aturan-aturan (Syari’at Islam) yang Beliau dirikan, dengan cara mengaku-aku sebagai nabi untuk membuat aturan-aturan baru, padahal segala aturan hidup yang baik dan benar, yaitu Syari’at Islam telah Beliau dirikan. Beliau itulah pembawa Syari’at terakhir dari Allah SWT untuk ummat manusia, tidak ada lagi lainnya karena memang tidak diperlukan lagi. Jelasnya khatamannabiyyin di sini maksudnya bahwa Rasulullah saw. itu terakhir/penutup para Nabi pembawa syari’at, dan laa nabiyya ba’dii juga menguatkan itu, yakni tidak ada lagi nabi pembawa syari’at sesudah Beliau. Demikian pemahaman para ulama, seperti Syaikh Ibnu Arabi, dalam kitabnya Al Futuhat Al Makkiyyah juz 2. Ia berkata:

 
“… yakni tidak ada nabi sesudahku yang berada pada syari’at yang menyalahi syari’atku, sebaliknya apabila nanti ada (nabi), maka ia berada di bawah kekuasaan syari’atku.”
Syaikh Abdul Qadir Jaelani menulis:
 
  “Maka terputuslah hukum kenabian syari’at sesudah Rasulullah saw. dan Muhammad saw. adalah khatamannabiyyin karena Beliau datang membawa kesempurnaan yang mana tidak ada seorang pun datang membawanya.”   (Al Insanul Kamil, pasal 36 juz 1)
 
 “Maka kenabian secara mutlak (kenabian itu sendiri) tidaklah terangkat (hilang),tetapi yang terangkat hanyalah kenabian syari’at saja.”   (Al Yawaqit wal Jawahir juz 2)

Syaikh Muhammad Thahir Gujarati menulis:

 
“Sesungguhnya yang Beliau kehendaki ialah tidak ada nabi yang mengganti syari’at Beliau.” (Takmil Majma’il Bihar hal. 85)

Itulah pengertian/tafsir yang tepat mengenai hadits di atas. Sebaliknya hadits itu tidak bisa dipahami bahwa Rasulullah saw. nabi terakhir, tidak ada lagi nabi sesudah Beliau dalam bentuk apapun, baik yang membawa syari’at atau tidak, semua yang mengaku sebagai nabi pasti dusta. Karena kenyataannya Rasulullah saw. sendiri di tempat lain juga bersabda akan ada nabi lagi, seperti dalam hadits Muslim tentang turunnya Nabi Isa as. Juga banyak ayat Al Qur’an yang memberitahukan kita akan adanya nabi lain, seperti:

 
 “Hai Bani Adam jika datang kepadamu rasul-rasul dari kamu yang menceritakan ayat-ayatKU kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tiada ketakutan bagi mereka dan tidaklah mereka akan bersedih.” (QS. AL A’raf 35)

Fi’il Mudlori yang bertemu nun taukid tsaqilah dan jatuh setelah imma    ) .    menunjukkan khusus waktu akan datang, yakni nanti jika benar-benar datang persis sama seperti kata      (        ) dalam Surah Al Baqarah:

 

Bani Adam yang akan kedatangan rasul-rasul itu juga sifatnya umum, meliputi orang-orang di zaman turunnya ayat itu dan juga orang-orang setelah mereka, sama seperti kata Bani Adam sebelum ayat:


Contoh lain dari hadits laa nabiyya ba’dii:

 
 “Hai Ali, tidakkah engkau suka berkedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi selainku?” (HR. Bukhari)

  Ba’dii (      ) di sini bermakna ghoiri (     )
“selain aku” atau “di samping aku”. Kalau Nabi Harun as. menjadi di samping Nabi Musa as., tetapi tidak demikian halnya Sahabat Ali di samping Rasulullah saw. Makna ini dikuatkan oleh hadits lain yang berbunyi:

 
 “Hai Ali, tidakkah engkau suka berkedudukan di sampingku seperti Harun di sisi Musa,
selain bahwa engkau bukan nabi? (Thabaqat Kabir jilid V)

Singkatnya, hadits laa nabiyya ba’dii memang ada di berbagai kitab hadits. Tetapi masing-masing harus diartikan sesuai keadaannya/konteksnya. Dan tidak ada yang maksudnya menafikan/meniadakan adanya nabi sesudah Rasulullah saw. secara mutlak. Seperti halnya khatamannabiyyin, hadits laa nabiyya ba’dii ini pun kalau toh mau diartikan “tidak ada lagi nabi” harus dalam arti “tidak ada nabi yang membawa syari’at” atau “tidak ada nabi yang menyamai apalagi melebihi derajat Rasulullah saw.”
Meskipun pengertian seperti ini dari penggunaan kata sejenis laa nabiyya ba’dii tergolong banyak dalam percakapan bahasa Arab, akan tetapi karena diperkirakan akan banyak orang mudah keliru dalam mengartikan laa nabiyya ba’dii, maka Sayyidah ‘Aisyah rha. sejak awal telah mengambil langkah antisipasi dengan melarang mengobral kata laa nabiyya ba’dii:

 
“ Katakanlah Beliau itu khatamannabiyyin dan jangan kau katakan tidak ada nabi sesudah Beliau.” (Addarul-Mantsur jilid V, Takmilah Majma’il Bihar)

Hal ini pun seperti ketika Sayyidina Umar Bin Khattab ra. menampar Sahabat Abu Hurairah ra. karena mengumumkan “Barangsiapa berkata laa ilaaha illallah, maka ia akan masuk surga”, padahal itu adalah hadits Rasulullah saw. Ketika Abu Hurairah ra. melaporkan hal itu kepada Rasulullah saw. dan Umar pun ikut menghadap, maka Beliau membenarkan alasan Umar yang mengkhawatirkan nanti orang-orang hanya akan mengandalkan bacaan itu dan malas beramal (Shahih Muslim – Kitabul Iman). Tindakan Sayyidah ‘Aisyah rha. dan Sayyidina Umar ra. itu sama ibaratnya seperti orang tua yang melarang anaknya memegang-megang pisau, karena dikhawatirkan akan salah menggunakannya. Meskipun pisau itu sendiri dapat bermanfaat jika digunakan secara benar, tetapi ada saatnya barang tajam itu harus dirampas dari tangan anak-anak/orang-orang tak bertanggung jawab.
Demikian seperti yang terjadi sekarang, kata khatamannabiyyin dan laa nabiyya ba’dii akan menjadi sarana petunjuk/pemahaman tentang masih terbukanya Pintu Kenabian lewat/jalan satu-satunya, yaitu melalui ketaatan sempurna kepada Sang Rasul Khatamannabiyyin, malah digunakan untuk menuduh Beliau sebagai penghalang (penutup) datangnya nikmat terbesar dari Allah SWT, yaitu nikmat Kenabian.  
Berikut penegasan Al Qur’an bahwa pintu kenabian masih terbuka dan jalan menuju ke sana adalah ketaatan kepada Allah SWT dan RasulNya:

        
“Dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka mereka termasuk dari orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiq, para syahid, para shalih. Dan mereka itu sebaik-baik teman.” (QS. An Nisaa’: 69)

Menurut ayat ini orang yang benar-benar taat kepada Allah SWT dan Rasulullah saw., ia akan menjadi nabi, shiddiq, syahid atau orang shalih. Ma’a (   ) di sini artinya tidak hanya “beserta” atau “bersama”, akan tetapi mengandung arti “termasuk” dan “menjadi” (    ), seperti kata ma’a pada ayat:

 
“(Hai Iblis) mengapa engkau tidak berada bersama orang-orang yang sujud?”  (QS. Al Hijr: 3)

Maksudnya mengapa kamu tidak sujud juga seperti mereka. Terbukti pada ayat lain menggunakan min (    = dari/termasuk/menjadi):

          
“Maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia tidak termasuk dari orang-orang yang  sujud.” (QS. Al Baqarah: 34)

Kalau ma’a diartikan “beserta “ saja, maka artinya bahwa bagaimanapun sempurnanya ketaatan seorang muslim, ia tidak akan bisa menjadi orang shalih, syahid, shiddiq, apalagi nabi. Ia akan menjadi penonton saja yang selalu menyertai (“beserta”) mereka, tanpa “menjadi” seperti mereka walau hanya yang paling rendah sekalipun (orang shalih). Padahal kenyataannya di kalangan orang Islam telah banyak orang taat yang benar-benar menjadi orang shalih, syahid dan shiddiq, seperti Abu Bakar ra., Umar ra., Utsman ra. dan lainnya.
Kenyataan telah dicapainya tiga pangkat pewaris kenikmatan: shalih, syahid dan shiddiq, itu telah menunjukkan bahwa “lowongan” yang satunya lagi yaitu pangkat kenabian pun mungkin pula dicapai. Kalau tidak, maka yang ketiga itu pun tidak mungkin, karena keempat derajat itu merupakan satu paket sebagaiman terbaca pada ayat di atas.

Mengapa tidak langsung saja dikatakan

.....

Kalaulah memang artinya: “dari/termasuk/menjadi ...”

mengapa masih menggunakan kata ma’a (beserta)? Itulah di antara rahasia Al Qur’an bahwa memang untuk menjadi orang baik, seseorang pertama-tama harus berkumpul dulu bersama orang-orang baik, lama-kelamaan ia akan menjadi baik pula. Semakin erat kebersamaan orang itu akan semakin tinggi pula tingkat kebaikan yang ia dapatkan. Sama seperti pekerjaan mencangkok tanaman, pertama hanyalah sebuah tunas tanaman yang ditempelkan ke batang sebuah pohon. Tetapi lama-kelamaan menjadi sangat kuat dan menyatu dengan pohon itu serta menjadi bagian dari pohon itu.
Demikian halnya para Sahabat Nabi, semula banyak di antara mereka yang berasal dari kalangan orang-orang bodoh dan jahat (jahiliyyah). Tetapi dengan berbai’at ke tangan Beliau, berkumpul dan berjamaah bersama Beliau akhirnya menjadi seperti Beliau. Sesuai kadar ketaatan dan kefanaan masing-masing, mereka mendapatkan derajat shalih, syahid dan shiddiq. Dan yang tertinggi/yang terdekat adalah derajat nabi. Ibarat fotocopi, Rasulullah saw. adalah gambar aslinya dan yang lain adalah copinya. Semakin baik mesin sebuah fotocopi, semakin tajam pula gambar yang dihasilkannya.
Sahabat Abu Bakar ra. adalah fotocopi Rasulullah saw. yang sangat bagus, mencapai derajat shiddiq. Tetapi ada yang lebih tinggi satu tingkat dari Beliau, yaitu seorang muslim dari ummat Rasulullah saw. yang berpangkat nabi. Rasulullah saw. bersabda:

 
“Abu Bakar adalah orang terbaik di dalam ummat ini, kecuali ada nabi.” (Kanzul Haqaiqi fi Haditsi Khairil Khalaiqi)

Nabi seperti itu adalah sama dengan seorang nabi cerminan/bayangan/copian dari kenabian Rasulullah  saw., yakni menjadi nabi berkat ketaatan, kecintaan dan kefanaannya yang sempurna kepada Beliau. Dia bukan nabi pembawa syari’at baru, tetapi sebagai wakil Beliau untuk menyatukan ummat Islam dan menegakkan kembali bendera Islam di akhir zaman.

kembali ke ...............kita memerlukan seorang Nabi/Rasul

Pengaruh Paham Tidak Ada lagi Nabi

Kata khatamannabiyyin kelihatannya hanyalah masalah apakah ia akan diartikan “akhir para Nabi” secara hakiki atau secara majazi yakni “akhir derajatnya/termulia”. Namun hal ini ternyata buntutnya sangat panjang, karena dengan memegangi makna bahwa tidak akan ada lagi nabi secara hakiki, berarti:

  1. Hal ini bertentangan dengan konteks dan asbabunnuzul ayatnya.
  2. Tidak sesuai dengan penggunaan istilah yang lazim dipakai dalam bahasa Arab.
  3. Kita telah bersiap diri menolak setiap orang yang mengaku nabi, yang benar atau yang salah/palsu. Apabila Nabi Isa as. datang sebagaimana diriwayatkan secara mutawatir maknawi  dalam hadits Rasulullah saw. yang jumlah tidak kurang 48 buah hadits, pasti kita akan menolaknya dan menganggap pendusta yang mengaku-ngaku sebagai Nabi Isa as. Mengapa? Sebab kita tidak pernah kenal dan melihat dia sebelumnya. Maka bagaimana kita akan percaya dia itu Nabi Isa as. sebenarnya yang diutus kepada orang-orang Bani Israel. Apalagi setelah berusia 2000 tahun, tentunya sebagai manusia biasa yang dulu makan roti dan ikan bakar, sudah tentu sekarang dia jauh berubah, rambut dan kukunya tidak bisa dibayangkan panjangnya seperti apa. Pasti segalanya telah berbeda dengan gambar/patungnya yang juga belum tentu shahih. Singkatnya minimal pasti kita akan ragu bahwa ia benar-benar nabi Isa as. Maka pada gilirannya pasti kita akan memilih tidak percaya demi kepercayaan kita yang telah lama kita pegang dan yakini bahwa tidak ada lagi nabi.
  4. Demikian pula jika yang datang ternyata bukan Nabi Isa as. yang dulu telah datang, melainkan seorang Muslim dari ummat  Muhammad saw. yang sifat dan tugasnya seperti Nabi Isa as. yang dulu, sehingga ia disebut sebagai “Isa” juga, seperti sebutan “Bilal” untuk orang yang sering mengumandangkan azan, kita pun akan sulit menerima orang itu ketika ia mengatakan dirinya adalah seorang Nabi, meskipun berbagai halnya benar-benar menyerupai Nabi Isa as. dan semua kriteria/persyaratan kenabian ada pada dirinya, karena kita sudah memegang kepercayaan bahwa “tidak akan ada lagi nabi”.

Kita selalu akan mengandalkan otak dan kemampuan sendiri dalam upaya mengatasi berbagai problem dan krisis kemanusiaan saat ini yang para ulama sendiri meyakini sebagai penyakit gawat yang tidak lagi cukup/bisa ditangani oleh tukang-tukang obat kecilan, tetapi harus ditangani oleh seorang dokter ahli (Al Gazali: Nabi adalah dokter). Sementara kita yang sudah meyakini bahwa tidak akan ada lagi “dokter”, maka pada prakteknya tentu kita akan menolak siapa saja yang mengaku “dokter” dan kita tidak akan berpikir untuk berobat ke “dokter”, karena sudah ada anggapan kita bahwa semua yang mengaku “dokter” adalah palsu dan penipu, maka kita akan terus bertahan dengan “penyakit” kita dan melakukan praktek pengobatan sendiri, berjuang sendiri, membangun musholla sendiri, menghadapi Israel sendiri, memburu Salman Rusydi sendiri untuk dibunuh sendiri, para elit diam dengan caranya sendiri, lalu para ummat naik pitam dan memekikkan jihad yang akhirnya berangkat ke Ambon sendiri-sendiri (kelompoknya saja). Tidak ada Imam, begitu terus berlangsung demikian, akhirnya kita lemah, kalah, marah sampai kiamat datang, itu karena kepercayaan kita bahwa tidak akan ada lagi nabi.
Akhirnya pada gilirannya kita menganggap Allah SWT menyaksikan semua problem dan berbagai malapetaka menimpa ummat manusia dewasa ini, tetapi Dia hanya berpangku tangan, diam tidak mendatangkan seorang pun untuk menolong mereka dari kecelakaan maut itu dan hanya menyerahkan kapada korban yang sedang bergelimpangan itu supaya bangun sendiri. Menyuruh korban untuk cari rumput atau akar pohon untuk berpegangan sendiri. Dia hanya berkata bahwa gelarlah konggres dan muktamar untuk menyatukan hati ummat yang telah terpecah-pecah dan terkotak-kotak itu, angkatlah seorang khalifah dengan cara pilihan umum ummat Islam sedunia, himpunlah seluruh dana dan daya ummat Islam sedunia dan satukanlah sikap mereka untuk menghadapi kecongkakkan Dajjal, Israel, Yahudi dan Nasrani, pecahkan kejahatan dan keburukan yang telah membanjiri permukaan bumi, kerjakanlah semua itu dengan kemampuanmu sendiri. Kami tidak akan memberimu bantuan seorang “Utusan” pun, seperti biasanya dulu Kami lakukan, meskipun hanya untuk menghidupkan kembali Islam yang telah loyo itu dan walaupun Utusan itu sama sekali bukan untuk merubah atau menyaingi Syari’at Nabi Muhammad saw. Kami tidak bisa dan tidak mungkin lagi mengutus Utusan. Mengapa? Karena Muhammad saw. itu adalah Nabi Terakhir dan sudah habis persediaan/stock nabi.
Bayangkan saja, berapa banyaknya ummat manusia sebelum kita yang tersesat dan dimurkai Allah SWT, karena mereka menolak para nabi UtusanNya. Mengapa mereka menolak para Nabi? Ada yang karena gambaran mereka sendiri mengenai nabi telah keliru sebelumnya, sehingga ketika benar-benar ada nabi datang kepada mereka, tidak mengenalinya dan menganggapnya pembohong. Banyak pula yang karena berkeyakinan tidak akan ada lagi nabi, seperti orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat-ayat ini:
 “Sehingga apabila (Yusuf) telah wafat kamu berkata “Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya.” (QS. Al Mukmin: 34)
“Dan mereka mengira, sebagaimana kamu juga mengira, bahwa Allah tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun.” (QS. Al Jin: 7)
Rupanya sejak dulu kepercayaan tidak akan ada lagi nabi sudah membudaya seperti sekarang juga. Bahkan diriwayatkan ulama Yahudi pernah berijma’ tidaka akan ada lagi nabi sesudah Nabi Musa as.

 (Muslamuts-Tsubut jilid 2)    
Tetapi kenyataannya para nabi tetap datang setiap kali dunia memerlukannya. Namun demikian karena kepercayaannya itu kebanyakan mereka menjadi sangat sulit mempercayai para pendakwah kenabian kendatipun para pendakwah itu telah memenuhi defenisi, kriteria dan semua persyaratan kenabian.
Pemahaman  tentang khatamannabiyyin ini, kami menganggap sebagai masalah  sangat serius mengingat bahwa suatu  kekeliruan yang nampaknya hanya berangkat dari masalah ketepatan  memberi makna, ternyata bisa berakibat fatal.  Ibarat orang di  persimpangan jalan, sekali salah memilih arah dia akan tersesat  terus,  kecuali ia mau kembali.  Seperti  orang-orang Ahli Kitab, Yahudi, dan  Nasrani. Ingatkah   kita mengapa  mereka  menjadi ummat yang  tersesat jalannya, dimurkai Allah SWT dan terancam  neraka?  Karena  dahulunya  ketika  mereka  berada  di  “persimpangan jalan” dan harus memilih antara mengartikan kata ibnullah     (       ) yang  tertulis di dalam kitab suci
mereka dengan  makna  “Anak Allah” secara  hakiki  atau  “Anak Allah” secara majazi, yakni “hamba kesayanganNya”, mereka ternyata memilih mengartikan secara makna hakiki. Kemudian orang-orang Yahudi akhirnya menganggap Nabi Uzair adalah anak Allah dan orang-orang Nasrani menganggap Nabi Isa anak Allah. Maka menjadi musyriklah mereka.
Demikianlah kontradiksi dan pertanyaan demi pertanyaan yang muncul apabila khatamannabiyyin diartikan akhir para nabi secara hakiki. Tetapi kalau diartikan secara majazi, maka segalanya akan terasa pas dan serasi. Bahkan dengan berpaham bahwa pintu kenabian masih terbuka, maka seorang Muslim akan bertambah bergairah. Ia akan melihat secara Ilmul Yakin cahaya Islam akan kembali menyinari bumi. Manusia akan berbondong-bondong menyembah Allah SWT dengan penuh suka cita, setelah selama kurang lebih seribu tahun suasana kehidupan damai seperti terangkat ke langit, seperti firman Allah SWT:
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yangkadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut  perhitunganmu.” (QS. As Sajdah: 5)
Kemudian ia akan melihat secara ‘Ainul Yakin Allah SWT mewujudkan kemenangan tersebut melalui perjuangan orang-orang yang beriman dan menerima Utusan Allah SWT yang telah dinubuatkan kedatangannya di dalam kitab-kitab berbagai agama, khususnya Rasulullah saw.. sendiri. Kemudian ia akan merasakan secara Haqqul Yakin berkah kedatangan Utusan Allah SWT itu, berupa nikmatnya kehidupan berjamaah, sejuknya wejangan-wejangan bertuah, dalamnya ilmu-ilmu ma’rifat Ilahiyyah, serta rahasia-rahasia Qur’aniyyah, yang tidak terdapat di luar lingkungan jamaah Rasul/Nabi itu.
Dia adalah seorang Juru Selamat dan Guru Jagat zaman ini yang oleh Rasulullah saw.. dijuluki sebagai Isa bin Maryam. Beliau bersabda:

 
“Bagaimana (sikap) kamu apabila Ibnu Maryam turun di tengah kamu dan Imammu dari antara kamu?” (HR. Bukhari)

 
“Bagaimana kamu apabila Ibnu Maryam turun di tengah kamu lalu mengimami (memimpin) kamu?” (HR. Muslim)
Yakni bagaimana sikapmu nanti, akankah kamu menerima atau menolak, apabila seorang nabi/rasul seperti Nabi Isa bin Maryam datang memimpinmu? Ada beberapa penjelasan singkat berkaitan dengan pemahaman hadits ini:

  1. Rasulullah saw. dalam berbagai sabdanya menubuatkan Nabi Isa bin Maryam akan datang di akhir zaman untuk menghidupkan/memenangkan Islam kembali.
  2. Tetapi sesungguhnya yang dimaksud adalah seorang dari ummat Beliau yang seperti Nabi Isa bin Maryam. Kata Isa bin Maryam hanyalah sebutan secara kiasan (majazi) seperti kata “Bilal” untuk orang yang sering mengumandangkan azan.
  3. Nabi Isa bin Maryam yang dulu diutus untuk Bani Israel dengan kitab sucinya Injil, sudah lama wafat seperti umumnya manusia dan nabi-nabi lainnya. Ia tidak pernah naik ke langit seperti anggapan orang-orang Nasrani/Kristen. Ada beberapa hadits shahih yang mendukung tentang sudah wafatnya Nabi Isa as. (silahkan buka kumpulan Hadits Shahih Bukhari).
  4. Kata nazaala (turun) dalam hadits-hadits itu bukan maksudnya “turun dari langit”, tetapi kata itu hanya untuk menggambarkan keagungan datangnya seorang nabi sebagai suatu rahmat bagaikan sesuatu yang sangat berharga yang jatuh/turun dari langit.
  5. Kata imamukum ) dalam hadits Bukhari itu athaf kepada kata ibnu Maryam, bukan menjadi mubtada’ bagi kata minkum (   ) sesudahnya. Hal itu dikuatkan oleh redaksi hadits Muslim yang berbunyi:

(     ) …sedangkan kata minkum (   ) ta’alluq kepada kata nazaala  (    ) atau menjadi “hal”-nya kata imamukum.
Sehingga artinya secara bebas: “Bagaimana sikapmu nanti apabila datang seorang nabi yang sifat dan tugasnya seperti Nabi Isa bin Maryam dan sebagai pemimpin kamu sekalian dan berasal dari kalian juga, datang sebagai utusan ke tengah-tengah kalian?”  Bukan: “Bagaimana sikap kamu apabila Nabi Isa bin Maryam yang dulu/lalu telah datang akan turun kembali ke tengah kamu, sedangkan waktu itu imammu seorang di antara kamu sendiri?”
Apakah sebelum masa terjadinya itu ummat Islam dipimpin oleh khalifah-khalifah Yahudi atau Amirul Mukminin Nasrani?
Isa bin Maryam akhir zaman ini oleh Rasulullah saw. sering juga disebut sebagai Imam Mahdi, karena sesungguhnya ia dan Imam Mahdi adalah orang yang sama. Seperti seseorang yang menyandang dua sebutan, misalnya Kiyai-Haji, atau Drs. tetapi kepala desa juga. Rasulullah saw. bersabda:

 
“Dan Mahdi tidak lain adalah Isa bin Maryam.”
(HR.  Ibnu Majah no. 4039)

Kembali ke.....Paham tidak ada lagi Nabi  

Imam Mahdi Sudah Datang

Ahmad Wahib dalam catatan hariannya yang dibukukan berjudul “Pergolakan Pemikiran Islam” mengungkapkan kerinduannya kepada kedatangan seorang nabi di zaman ini. Demikian pula Drs. Toto Tasmara dalam bukunya “Menjawab Tantangan Zaman II” berteriak mengharap bangkitnya Imam Mahdi, seperti berikut:
BANGKITLAH WAHAI IMAM MAHDI
Lantas mau ke mana ummat Islam mengadu? Apakah kepada negara-negara Islam yang tergabung di dalam OKI? Ataukah kepada Sekjen PBB Boutro- Boutros Ghali yang nota bene terbukti sudah sangat merasa alergi karena ikut campur militer di dalamnya, yang bahkan diledek oleh mantan Menlu Amerika George Schultz, bahwa Boutros Ghali seharusnya menjadi penduduk di luar planet bumi yang karena…(dapat dibaca pada buku “Munculnya Dajjal…” CV. Aneka Solo, H. Miftahuzzaman)
Dalam ketidakpastian seringkali kita mengharapkan sebuah miracle (keajaiban). Dari suku bangsa yang tertindas, banyak kita dengar kisah-kisah tentang Sang Ratu Adil, Mesias atau Imam Mahdi yang akan turun dari langit untuk membebaskan penderitaan manusia. Paham Imam Mahdi dalam arti yang luas dikenal di setiap suku bangsa dan agama. Para Kristolog dari kelompok Nasrani meyakini hal ini sebagai ide dari millenerian yang kemudian melahirkan Mesias Sang Juru Selamat. Orang Indian mengenal Ghost Dances. Begitu juga di kepulauan Melanesia dikenal Cargo Cult, yaitu semacam pemujaan akan tibanya leluhur. Begitu juga di kalangan para Jehova’s Witnesses salah sekte Kristen yang didirikan pada tahun 1870 oleh Charles T. Russel di Pensylvania, meyakini bahwa kelak akan turun Sang Penolong. Dalam suasana khaos, penuh gejolak memang selalu saja muncul kelompok yang mengharapkan sebuah miracle (keajaiban).
Menunggu itu memang melelahkan dan bisa membuat berbagai kemungkinan yang tak terduga, bahkan bisa meleset sama sekali. Makanya daripada menunggu dan menunggu, kenapa sih kalau kita saja yang berusaha untuk menjadi pemimpin keadilan itu, menjadi Imam Mahdi yang sedang ditunggu-tunggu?
Setiap pribadi harus meningkatkan kualitasnya mencapai derajat muhtadin untuk kemudian tampil sebagai pemimpin yang mendapatkan Sibghoh Ilahiyyah. Tak perlu menunggu datangnya Ratu Adil, karena siapa tahu Ratu Adil itu adalah anda sendiri yang sekarang ini sedang bersembunyi. Mengapa harus menggantang khayal merajut mimpi, seakan-akan Imam Mahdi itu bakalan turun dari langit, padahal Imam Mahdi itu justru adalah ANDA! Yes, you are the Imam Mahdi, that we are waiting for, who knows?
Rasa rindu terhadap datangnya Rasul Juru Selamat/Imam Mahdi tidak hanya dialami para pemikir itu, akan tetapi kita semua sesungguhnya merasakan hal yang sama. Hal ini logis saja karena kita ini orang-orang waras yang punya hati dan otak normal. Di mana ketika kita dihadapkan pada situasi yang membuat hati kita sangat sedih merasakannya dan otak kita sangat lelah memikirkannya, tentu lalu timbul keinginan pada diri kita terhadap datangnya Sang Juru Penolong yang dapat membebaskan masalah kita. Hal ini bukanlah suatu kesalahan atau kebodohan, karena memang ia datang secara alami lantaran kita adalah orang-orang beriman yang percaya Allah SWT Maha Kuasa membangkitkan UtusanNya dan lagi pula hal itu (datangnya utusan) telah banyak contohnya di masa-masa lalu. Maka wajar saja jika kita yang sedang mengalami problem yang sama bahkan jauh lebih, mengharapkan jalan keluar yang sama dari Tuhan yang sama pula, karena janji-janji yang sama pula.
Jika kita berharap matahari akan terbit pada jam tiga malam tentu harapan kita akan sia-sia. Demikian pula jika kita berharap Allah SWT akan memungut seorang anak untuk DiriNya dan menurunkan ke bumi sebagai Juru Selamat ummat manusia, harapan kita akan sia-sia, karena semua itu tidak wajar dan bertentangan dengan Sunnatullah. Tetapi mengaharap datangnya Utusan Allah SWT untuk zaman ini yang disebut-sebut sebagai Imam Mahdi, Isa bin maryam atau Ratu Adil/Satrio Piningit adalah sesuatu yang sesuai Sunnatullah dan sangat wajar ditinjau dari berbagai aspek dan segi. Maka hal itu pasti bersambutan dengan Kehendak dan KuasaNya dan sama sekali tidak sia-sia. Sunnatullah membenarkan datangnya Juru Selamat di saat-saat keadaan dunia seperti sekarang ini. Situasi dan berbagai tanda zaman akhir pun telah lama muncul seperti Dajjal, Yajuj-Majuj dan sebagainya pertanda telah tiba waktunya kedatangan Utusan itu. Kapan tepatnya Rasulullah saw. bersabda:

 
“Dari Khudzaifah bin Yaman berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Apabila telah lewat 1240 tahun, Allah akan membangkitkan (Imam) Mahdi.” (An-Najmuts-Tsaqib jilid II)

Selain Rasulullah saw. sendiri, banyak juga para orang arif, Waliyyullah yang mengatakan Imam Mahdi akan keluar sekitar akhir abad ke 13 H atau awal abad ke 14 H. Sekarang kita berada di tahun 1428 H, berarti Imam Mahdi terlambat datang? Atau tidak jadi datang? Atau nubuatannya yang meleset? Atau Tuhan sendiri lupa? Tidak! Tuhan tidak lupa, tidak tidur. Nubuatan Rasulullah saw. dan orang-orang ‘arif billah juga selalu tepat. Maka sesungguhnya Utusan Allah SWT Imam Mahdi pun telah ada dan telah datang. Tentu Pertanyaannya: Mengapa tidak kami ketahui?
Itu soal lain. Ketidaktahuan tentang sesuatu tidaklah menafikan/menghilangkan dan menggugurkan adanya sesuatu. Demikian pula kesalahan anggapan atau pengingkaran terhadap kebenaran sesuatu tidaklah membuat sesuatu yang benar itu menjadi batil. Contohnya, Rasulullah saw. itu Utusan Allah SWT yang benar. Sungguh pun demikian, sampai hari ini empat milyar lebih penduduk bumi masih merupakan orang-orang non muslim. Mereka bervariasi, ada di antara mereka yang sama sekali belum tahu siapa itu Muhammad saw. Ada yang sudah sering mendengar namanya akan tetapi gambaran mengenainya salah, bahwa Muhammad bukanlah nabi atau apa, ia hanyalah seorang Jendral Arab yang selalu menang perang saja, dan seorang lelaki yang royal wanita. Ada pula yang berpendapat cukup banyak mengenai Beliau, bahkan bahasa Arab, Al Qur’an dan Hadits mereka pelajari secara mendalam, akan tetapi menurutnya Nabi Besar itu tetap saja hanya seorang Muhammad pendusta.
Demikian itulah pula ketidaktahuan, kesalahpahaman atau pengingkaran terhadap setiap Utusan Allah SWT di masa lalu. Tetapi semua itu sama sekali tidak mempengaruhi kebenaran dan keabsahan utusan-utusan itu. Berbahagialah orang-orang yang dapat mengenali utusan-utusan itu ketika datang dan beriman kepadanya, karena sesungguhnya keselamatan dan kedamaian hakiki pada akhirnya hanyalah berada dalam kehidupan berjamaah bersama mereka.
Demikian pula bagi kita yang hidup di zaman Imam Mahdi ini hendaknya introspeksi diri: Di manakah kita telah berpijak? Di manakah posisi kita? Apakah kita termasuk orang yang belum mendengar kedatangannya? Atau sudah pernah dengar tetapi kurang jelas? Atau menganggapnya belum datang? Atau sudah tahu tetapi tidak mau ikut? Atau sudah masuk ke dalam jamaahnya tetapi berkhianat? Janganlah kita seperti orang Yahudi yang menolak para Utusan Allah SWT. Jangan pula kita bersikap seperti orang-orang Nasrani yang karena kecapaian  menunggu-nunggu datangnya Yesus kedua kalinya dan tidak kunjung turun dari langit lalu menganggap gereja itulah sebagai gantinya. Atau berkompensasi dengan mengatakan bahwa justru dengan tidak adanya nabi lagi, maka kita bisa menjadi lebih dewasa, bahkan kita semua bisa menjadi Yesus atau Imam Mahdi.
Sesungguhnya Kasih SayangNya selalu datang lebih cepat ketimbang kerinduan hamba-hambaNya. Tidak usahlah kita merepotkan diri dengan mengangkat-ngangkat diri kita atau seseorang sebagai Imam Mahdi  Utusan Allah SWT. Imam Mahdi sesungguhnya telah datang tepat waktu sesuai nubuatan Rasulullah saw. Tinggallah kita yang dituntut untuk menyikapi kedatangannya secara benar. Rasanya terlalu besar pembahasan masalah ini untuk ditutup begitu saja,  atau hanya dibahas sebagai obyek keilmuan saja, meskipun kami juga memang tidak dapat membahasnya secara ilmiah, sistematis, metodologi, dikarenakan kami bukan ahlinya. Tetapi justru dengan mengungkapkannya dalam buku ini, kami berharap setelah membaca buku ini akan muncul kesadaran dan semangat baru di kalangan para santri, para ustadz (ulama) hebat dan para ilmuwan yang lebih tahu dan lebih paham Al Qur,an dan Hadits Nabi untuk bersama-sama membahas lebih dalam, kemudian melahirkan suatu kesimpulan untuk dijadikan pijakan dalam bersikap. Sebab mengingat hal ini adalah termasuk masalah yang sangat penting, yang mana pemahaman tentangnya (masih ada lagi nabi atau tidak akan ada lagi nabi) berdampak sangat serius dan berpengaruh sangat luas. Terutama yang menyangkut tentang kedatangan Nabi Isa as. dan Imam Mahdi.
Kehidupan berjamaah menumbuhkan gairah dalam pengamalan ajaran Islam. Hal ini dikarenakan di dalam kehidupan seperti itu orang akan lebih mudah dan selalu termotivasi untuk tetap konsisten pada ajaran Islam. Seperti halnya memotivasi atau menyuruh  seorang santri di lingkungan pesantrennya atau seorang tentara di lingkungan kesatuannya, tentu lebih mudah ketimbang kepada orang luar.
Sebaliknya, kehidupan nafsi-nafsi ialah kehidupan tanpa persatuan, seperti kehidupan ummat Islam dewasa ini. Di sana-sini berjuang sendiri. Di sana bangga dan merasa cukup dengan kelompok sendiri, di sana sibuk dan repot dengan pembangunan mesjid sendiri. Akibat dari bercerai-berai ini, apalagi kalau bukan kerapuhan, kelemahan dan mudah terserang berbagai penyakit.
Kehidupan beragama liar, tanpa berjamaah, tanpa imam/pemimpin, tidak hanya menjadikan kita mudah terserang penyakit diadu domba, fitnah, provokasi dan  intimidasi, mudah menyerang dari luar, tetapi potensi pengamalan dari dalam pun menjadi lebih mudah melemah dan cenderung berjalan seenaknya. Shalat seenaknya, membayar zakat/infaq seenaknya, sudah ada mesjid besar yang tidak seberapa jauh dari situ, pada membuat langgar sendiri-sendiri, tidak ada yang bisa mencegah karena toh merasa membangun dengan uang sendiri. Anjuran agar kita kembali berjamaah seperti para Sahabat Nabi dulu, jelas perlu dan memang selalu harus dilakukan. Sementara keinginan ke arah itu  di hati kita rata-rata sesungguhnya telah ada. Lalu cukupkah sampai di situ saja pengajian kita, ceramah kita, khotbah kita tentang perlunya berjamaah ?
Sesungguhnya ummat Islam menghendaki yang lebih nyata lagi, yaitu harus berjamaah sama siapa? Kalau dulu ada Rasulullah saw. Setelah Beliau ada para khalifah. Kalau sekarang siapa imam kita? Imam Syafe’i ? Imam Khomeini? Raja Arab Saudi? Presiden kita? Atau imam kita adalah Al Qur’an?
Imam kita bukan Al Qur’an, karena imam itu orang yang memimpin kita dalam kehidupan beragama. Jadi dia harus berupa manusia. Seperti dulu Al Qur’an dan Sunnah ada, bahkan masih segar, tetapi ummat perlu imam yang memimpin mereka berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah itu, yaitu para khalifah.
Imam kita bukan imam Syafe’i, karena yang kita maksud dengan Imam adalah orang yang hidup yang memimpin kehidupan beragama kita yang sedang hidup ini. Seperti orang Islam yang hidup di zaman Khalifah Ali, jika ditanya siapa pemimpin/imam mereka, mereka tidak menjawab Nabi Muhammad, Abu Bakar, Umar atau Utsman, karena semuanya itu telah wafat. Mereka tentu akan menjawab Imam kami adalah Ali bin Abi Thalib.
Demikian pula apabila nanti kita ditanya malaikat di alam kubur, “Siapakah Imam-mu?” kita tidak boleh menjawab, misalnya “Nabi Muhammad”, karena untuk Beliau sudah ada pertanyaan tersendiri.
Mengapa tentang imam ini menjadi sangat penting dan akan ditanyakan secara khusus di alam kubur nanti? Karena hal itu berkaitan erat dengan pertanggungjawaban seorang muslim terhadap amal perbuatannya yang menyangkut soal kebersamaan, keberjamaahan, ketaatan, kesetiaan dan kedisiplinan. Sehingga apabila jawaban kita kelak di kuburan bukan Imam Zaman kita (yang hidup sezaman dengan kita) yang sebenarnya dan yang kita kenal serta berurusan dengannya, tentu tidak akan diterima. Karena kalau kita menyebut Imam Zaman yang tidak sezaman dengan kita (tidak hidup bersama dengan kita), sudah barang tentu mereka juga akan menolak dan mengatakan tak kenal-mengenal dengan kita ketika hal itu ditanyakan kembali kebenarannya kepada mereka.
Imam di sini juga bukan seorang raja atau presiden sebuah negara, karena ummat yang menjadi ma’mumnya pun orang-orang Islam yang tinggal di berbagai negara di dunia. Imam di sini Imamul-Muslimin fi zamanihim, Imam orang-orang Islam di zaman mana mereka hidup. Seperti Rasulullah saw. bagi orang-orang Islam di zamannya, di mana pun mereka tinggal, termasuk di Ethiopia yang di bawah pemerintahan seorang Raja Kristen, mereka semuanya beriman kepada Rasulullah saw., meskipun bagi yang di Ethiopia itu dalam berbangsa dan bernegara tentu mengikuti aturan-aturan negara di mana mereka tinggal. Demikian pula dengan zaman Khalifah, ummat Islam di mana pun mereka tinggal, termasuk yang tinggal di negara-negara asing (di luar negeri tempat Imam/Khalifah tinggal). Mereka semuanya beriman kepada Imam/Khalifah yang ada waktu itu.
Pertanyaannya sekarang, apakah ada Imam/Khalifah seperti itu sekarang ini? Kami jawab dengan tegas ada dan memang selalu ada sejak zaman Rasulullah saw. sampai kiamat. Hanya saja ada saatnya ketika seluruh ummat Islam secara kompak mengakui Imam zaman itu, ada saatnya ketika sebagian besar saja yang mengenal dan mengakui Imam Zaman, ada saatnya pula malah sebaliknya. Kebanyakan ummat tidak mengenalnya, apalagi mengakuinya. Tetapi akan tiba saatnya ketika secara sedikit demi sedikit sampai akhirnya seluruh ummat Islam secara kompak mengenal dan mengakuinya lagi Imam zaman yang ada. Persis seperti bulan yang suatu saat nampak bulta penuh. Kemudian mengecil-mengecil sampai tak terlihat. Kemudian terlihat kembali dari kecil membesar-membesar sampai akhirnya bulat seutuhnya lagi. Dan memang para khalifah itu ibarat bulan yang mengambil cahaya dari Rasulullah saw. sebagai matahari ummat.
Memang demikianlah kenyataannya yang terjadi. Sepeninggal Rasulullah saw. dulu ummat Islam mula-mula semuanya secara kompak mengenal dan mengakui Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman sebagai Imam-imam mereka. Kemudian di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib, mulai sebagian orang Islam ada yang tidak mengakuinya keimaman Beliau, meskipun sesungguhnya Beliau adalah Khalifah yang haq. Lalu setelah itu di zaman Daulah Umawiyyah banyak orang dari Bani Abbas tidak mengakui Khalifah yang ada. Demikian sebaliknya di zaman Daulah Abbasiyyah banyak orang dari Bani Umayyah tidak mengakui Khalifah yang ada saat itu, demikian seterusnya sampai masa tumbangnya khilafah Utsmaniyyah di Turki pada awal abad ke 14 H, yang lalu orang Islam praktis menjadi bercerai-berai, tidak lagi mengenal lembaga khilafah dan menyangka tidak ada lagi khalifah yang akan memimpin mereka. Mereka dalam keadaan gelap, kemudian tidur panjang, nyenyak dan terlelap pulas, bermimpi yang bukan-bukan tentang keindahan, kemewahan dan segala tetek bengek yang “bukan” merupakan cara hidup orang-orang muslim sejati.
Tetapi sesungguhnya “bulan” adalah “bulan”, tidak hilang tidak musnah, ia tetap ada. Ia tetap terbit kembali, bahkan sampai saat ini mulai terlihat meninggi, tetapi sayang seribu sayang, kebanyakan ummat masih terus bermimpi dan mengunci diri. Yang datang mengetuk pintu untuk coba membangunkannya diusir bahkan dimarahi.

Wahai Bulan

Engkau bukan batu angkasa yang terinjak kaki
Bukan pula bilangan waktu tiga puluh hari
Engkau pembawa cahaya sang penakluk hati
Pengikat ukhuwah persaudaraan hakiki
Berjuta ummat pecinta Rasul datang berbai’at
Memuji Tuhan, mengagungkan-Nya serta bertaubat
Menjunjung Islam tanpa memaki, tanpa menghujat
Kebal hasutan, diprovokasi atau diumpat
Lewat berbagai media bumi maupun langit
Engkau sinari remang di lembah, gelap di bukit
Hingga saatnya para penantang berhati sempit
Datang menyesal bersedih hati sambil menjerit.

Demikianlah dapat disimpulkan bahwa apabila suatu ummat kuat jiwa keagamaannya mereka tidak akan mudah termakan isu, fitnah, provokasi dan sebagainya. Dan cara terbaik untuk memperkuat jiwa keagamaan ialah dengan melakukan kehidupan berjamaah seperti yang dicontohkan para Sahabat Nabi saw., karena tanpa berjamaah semangat dan kekuatan yang telah ada pada mereka pun lama-kelamaan akan menjadi kendor dan akhirnya buyar. Shalat, puasa, zakat, haji dan jihad menjadi tinggal nama tanpa makna. Rasulullah saw. bersabda:
“Dan aku memerintahkan kepada kalian dengan lima hal. Allah memerintahkan aku dengan lima hal tersebut, yaitu: berjamaah, mendengarkan, mentaati, berhijrah dan berjihad di jalan Allah. Barangsiapa keluar dari jamaah sejengkal saja, maka ia telah melepaskan tali ikatan Islam dari lehernya sehingga ia kembali.” Mereka (para Sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, sekalipun dia shalat dan berpuasa?” Rasulullah bersabda, “Sekalipun ia puasa, shalat dan mengaku muslim.” (HR. Ahmad)
Oleh karena itu dalam usahanya menghidupkan dan memenangkan Islam, Rasulullah saw. dan para Sahabatnya pada prakteknya selalu lebih menekankan pemantapan ke dalam, daripada ribut mempersoalkan ulah orang-orang luar. Mereka tidak pernah ambil pusing memikirkan bagaimana agar para pengingkar/kafir berhenti mengganggu. Tetapi selalu sibuk memperkokoh diri mereka sendiri agar mereka tahan terhadap gangguan. Sebagai contoh dalam perang Uhud, ketika terjadi kekalahan sementara di pihak kaum muslimin, Rasulullah saw. tidak lalu mencari-cari kambing hitam di pihak Khalid bin Walid atau Ikrimah yang masing-masing waktu itu menjadi sayap kanan dan sayap kiri pasukan musuh, karena Beliau sadar sepenuhnya pada kebenaran Surah Al Maidah ayat 105:
“Hai orang-orang beriman, jagalah dirimu sendiri, tidak akan dapat membahayakan kamu orang yang tersesat apabila kamu sendiri telah mendapat petunjuk.”
bahwa adanya kekalahan, kerugian dan marabahaya bersumber pada dirimu sendiri. Maka mantapkanlah ia, perkuatlah benteng pertahanannya. Adapun orang-orang di luar yang berbuat jahat, makar, licik, memancing-mancing emosi, memprovokasi, memang demikianlah mereka itu adanya. Dunia memang sering keadaannya dipenuhi dengan kabut dan kegelapan. Janganlah dirimu tergoda hingga menjadi kesal dan gusar karenanya. Akan tetapi majulah terus mambawa obor penerang di tengah kegelapan itu. Jadilah engkau bak ikan laut yang pantang menjadi asin, karena pengaruh air garam di sekelilingnya selagi engkau hidup Kecuali jika jiwamu melemah lalu mati, maka engkau akan sangat mudah menjadi ikan asin.
Korupsi, kolusi, nepotisme sudah mewabah di Indonesia. Berbagai krisis menerpa kita. Kerusuhan muncul di mana-mana, tindak kejahatan terjadi di setiap belahan negeri. Bermula dari bisik-bisik, kemudian dengan dalih mengoreksi dan membangun meningkat menjadi kritik, meningkat lagi menjadi polemik, berbalik menjadi konflik, saling lirik, saling tarik, akhirnya saling cekik. Tanpa menghiraukan suasana yang sudah memanas, terus saja berkomentar di publik, di koran dan di televisi. Alasannya, demi kemanusiaan? Demi Agama? Yang jelas demi jenjang karir politik.
Sebagai andalannya dikerahkanlah massa dalam jumlah besar, banyak dan kuat-kuat sambil meneriakkan slogan: ini kemauan rakyat, demi kedaulatan rakyat, pengadilan rakyat, karena kiblatnya memang ke Barat. Kehendak rakyat adalah kehendak Tuhan. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Jelas sudah bahwa motifnya adalah politik duniawi.
Jika benar motifnya demi ummat dan sang Khaliknya, tentu andalannya adalah kebenaran, sandarannya hanyalah Allah SWT, caranya meniru apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw.
Hanya Allah yang mempunyai kedaulatan.” (QS. Al An’am: 57)
Yang datang dari Allah SWT dengan sendirinya membawa kekuatan dan cahaya kebenaran daripadaNya. Dia tidak perlu mengadakan pentas, pawai, poster dan reklame yang aneh-aneh, serta tidak perlu membawa sejuta massa.
Kedaulatan berada di tangan Allah SWT itu memang cocok dan benar. Allah SWT yang Maha Berkuasa. Dialah yang Maha Memerintah dan Mengatur. Setiap kali terjadi penyimpangan tauhid, erosi keimanan, krisis dan kekacauan di muka bumi, maka Dialah yang memutuskan bagaimana mengatasinya. Yaitu dengan cara mengutus Juru SelamatNya, seperti di zaman yang sudah-sudah. Demikian pula di zaman ini, Juru Selamat akan datang kemudian membentuk jamaah yang ditiupkan ke dalam diri jamaahnya roh pertobatan, pensucian diri, sehingga menerbitkan keimanan dan semangat baru. Lalu mereka ke luar menebarkan perdamaian dan reformasi.
Sedangkan kedaulatan di tangan rakyat mungkin maksudnya bahwa manusia itu diciptakan sebagai Khalifatullah. Tetapi manusia yang mana? Rasulullah saw. memang Khalifatullah, para Sahabatnya juga memang Khalifatullah. Tetapi apakah tetangga anda yang pencuri dan perusuh itu Khalifatullah?
Akibat dari hembusan kata kedaulatan rakyat, peradilan rakyat, suara rakyat suara Tuhan adalah rakyat jadi benar-benar “berdaulat”, menjadi penguasa dan hakim dengan cara sendiri. Di mana-mana meledak kerusuhan, penghakiman massa, penyerangan dan penjarahan semau mereka. Dan yang paling parah adalah munculnya istilah “untuk menegakkan hukum tidak apa-apa melanggar hukum”. Istilah itu telah menjadi senjata tajam yang dipungut dan digunakan orang jahat untuk menyerang orang lain dan merusak lingkungan.
Kedaulatan itu milik Allah SWT. Dia mengamanatkannya kepada orang-orang pilihanNya, bukan kepada orang banyak. Orang banyak itu untuk diatur, bukan disuruh mengatur. Minimal diajak musyawarah.
“Dan jika engkau tunduk kepada kebanyakan orang-orang di bumi, mereka bakal menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am: 116)
Ayat ini jelas menentang prinsip suara orang banyak suara Tuhan. Tuhan sendiri pada prakteknya selalu mengutus para Rasul untuk menyampaikan kemauanNya kepada ummat manusia supaya diikuti, bukannya menyerahkan kepada ummat manusia supaya mengatur urusan mereka sendiri semau mereka. Mengapa? Karena dengan begitu mereka tidak akan berhasil.
Di sepanjang sejarah reformasi, perbaikan hakiki hanya berhasil dibawakan oleh manusia-manusia Utusan Tuhan. Demikian halnya di zaman akhir ini. Berbagai masalah berat yang telah dihadapi ummat Islam dan ummat manusia umumnya.
Kunci pemecahannya hanya satu, yaitu dengan datangnya Imam Mahdi dan Nabi Isa as. Sebagaimana kita meyakini jayanya Islam di zaman awal berkat seorang Nabi, demikian pula akhirnya.
Rasulullah saw. bersabda:

 
“Bagaimana mungkin akan binasa suatu ummat yang aku berada di awalnya dan Al Masih berada di akhirnya.” (Ibnu Majah: Madarikut-Tanzil)

 
“Tidak akan binasa ummat yang aku berada di awalnya, Isa bin Maryam di akhirnya dan Mahdi di tengahnya.” (Sunan An Nasai: Faidlul Qadir, Nuzulu Isa ibni Maryam Akhir az-Zaman)

Sesungguhnya janji Allah SWT tidak pernah meleset dan Rasulullah saw. tidak berbohong. Zaman ini kita membutuhkan teladan hidup, bukan hanya kitab, yang mampu menjadi maknit anutan. Maka Dia akan mengirimkannya tepat waktu, sebagaimana Dia selalu melaksanakannya setiap kali keadaan zaman membutuhkan.
Pendek kata dari pihak Allah SWT dan RasulNya tidak ada masalah. Yang selalu menjadi masalah adalah bahwa setiap kali seorang rasul datang, sungguhpun telah memenuhi persyaratan khabar sebelumnya, kebanyakan manusia selalu menolaknya. Terutama pemuka-pemuka masyarakat dan agama yang dianggap paling tahu masalah, karena mereka merasa sudah benar dan harus diikuti, sedangkan nabi/rasul datang menyampaikan perbaikan dan menuntut ketaatan dan ia juga manusia biasa yang makan-minum dan pergi ke pasar sepert mereka juga. Maka yang terjadi, pengikut seorang rasul pertama-tama adalah wong cilik.
Ternyata kebiasaan ini juga terjadi untuk rasul zaman ini, seperti dikatakan seorang Waliyyullah Syaikh Ibni ‘Arabi:

 
“Dan apabila Imam Mahdi keluar, maka tidak ada baginya musuh yang terang-terangan kecuali para ulama saja.” (Futuhat Makkiyyah jilid 3)

                                                              

Semoga dengan diangkatnya tulisan ini, dapat membuat kita bersikap dan bersifat bijak dalam melihat segala sesuatunya utamanya yang menyangkut masalah keyakinan orang-orang atau suatu golongan yang merasa seorang Nabi/Rasul masih akan datang. Benar tidaknya hal tersebut, yang jelas bahwa dalam tulisan yang diambil dari buku karangan H. Miftahuzzaman ini, hanya merupakan sebuah ”kajian” yang tentunya bisa saja benar dan bisa saja salah.
Yang jelas, apa yang dipaparkan dalam buku karangan H. Miftahuzzaman ini, memberikan kita sedikit pemahaman bahwa sekiranya memang masih ada nabi/ rasul Allah yang akan datang, maka pastilah dan mutlaklah dia bukan datang unutk merubah Syariat yang telah dibawa oleh KekasihNya Rasulullah saw. Begitu pula derajat kenabian atau kerasulannya, tidak akan sama apatah lagi akan melampaui derajat kerasulan Rasulullah saw. Akan tetapi dia datang juga sebagai ummat Rasulullah saw untuk mengingatkan ummat Rasulullah saw untuk kembali ke jalan yang benar. Ini kalaulah memang benar masih ada nabi, tetapi kalaulah tidak, maka marilah kita menjadi nabi/rasul bagi diri dan keluarga dekat kita di dalam naungan agama Allah dan Rasulullah saw. Wallahu a’lam bishshawab.
    Semoga dengan tulisan ini pula kita dapat saling menjaga tali persaudaraan antar sesama ummat Rasulullah saw. Amin.

 


Report Content · · Web Hosting · Blog · Guestbooks · Message Forums · Mailing Lists
Easiest Website Builder ever! · Build your own toolbar · Free Talking Character · Email Marketing
powered by a free webtools company bravenet.com